Kegagalan penalti bintang tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, dalam laga perempat final melawan Maroko di Foxborough kembali memicu perdebatan hangat di dunia sepak bola. Meski Prancis akhirnya tetap melaju berkat kemenangan 2-0, kegagalan Mbappe yang menggunakan teknik "stutter" atau larian tersendat sebelum mengeksekusi bola memunculkan pertanyaan besar apakah trik ini sudah usang.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan dari BBC Sport, kapten timnas Prancis tersebut sempat menghentikan langkahnya dan menatap penjaga gawang Maroko, Yassine Bounou, sebelum melepaskan tendangan lemah yang dengan mudah diselamatkan. Dari pantauan redaksi, kegagalan ini menambah panjang daftar pemain bintang seperti Bruno Guimaraes, Jorgen Strand Larsen, Lionel Messi, hingga Harry Kane yang juga gagal mencetak gol setelah menggunakan teknik serupa.
Menurut regulasi Fifa, seorang pemain sebenarnya diizinkan untuk melakukan gerakan tipuan atau menghentikan larian selama proses ancang-ancang, asalkan tidak dilakukan tepat saat akan menendang bola. Namun, mantan penyerang Inggris, Ian Wright, menilai bahwa trik ini mulai kehilangan tajinya. "Penalti dengan larian tersendat ini tampaknya sudah terbaca. Para penjaga gawang sekarang terlihat jauh lebih siap mengantisipasinya," ujar Wright saat berbicara di ITV.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa Piala Dunia kali ini menjadi turnamen yang cukup buruk bagi para eksekutor penalti. Secara keseluruhan, sebanyak 30 persen penalti di luar babak adu penalti gagal berbuah gol pada musim panas ini, menjadikannya angka kegagalan tertinggi kedua sepanjang sejarah Piala Dunia sejak pencatatan data dimulai pada tahun 1966. Jika ditambah dengan babak adu penalti, rasio kegagalan melonjak hingga 35 persen.
Mantan pemain sayap Skotlandia, Pat Nevin, menilai ada faktor teknologi dan fisik yang memengaruhi fenomena ini. Menurutnya, saat ini terjadi "perang senjata" antara penendang dan kiper karena postur penjaga gawang modern yang semakin besar dan atletis. "Penjaga gawang sekarang memiliki data lengkap, mereka tahu kebiasaan setiap pemain dan tidak ada yang bisa disembunyikan karena semuanya terekam. Ada pertempuran konstan untuk mencari keuntungan di lapangan," ungkap Nevin kepada BBC Radio 5 Live.